-->

Welcome Reader!

Available Figures Education Homework Travelling Culinary History

View Science Hire Me!

About Me

Education
History
Travelling
Who am i

Copy-In Aja.

Education, Travelling, Culinary, and History Blogger

Di blogger kami telah tersedia materi tentang perkuliahan dan sekolah serta dilengkapi informasi tentang wisata, kuliner. dan sejarah yang ada di setiap daerah di Indonesia

Untuk lebih lengkapnya silahkan eksplore yang tersedia pada Blogger kami.

Available

Education

Semakin Banyak Wawasan Yang Kita Miliki, Semakin Berwibawa

History

Ingat JAS MERAH (Jangan Pernah Melupakan Sejarah)

Travelling

Explore Negerimu, Jangan Hanya Dirumah Saja

Culinary

Cintailah Masakan dan Produk Negeri Tercinta

Our Blog

SYEKH DATUK IBRAHIM SANG PENYEBAR AGAMA ISLAM DI BANYUWANGI


Syekh Jamaluddin Akbar Al-Hasani atau Maulana Husain Jumadil Kubro(1310-1453 M) dikenal sebagai seorang muballigh terkemuka. dimana sebagian besar penyebar Islam di Nusantara (Wali Songo), berasal dari keturunannya. Beliau dilahirkan pada tahun 1310 M di negeri Malabar, yakni sebuah negeri dalam wilayah Kesultanan Delhi. Ayahnya adalah seorang Gubernur (Amir) negeri Malabar, yang bernama Amir Ahmad Syah Jalaluddin.

Silsilah
Nasab lengkap beliau adalah Maulana Husin Jumadil Kubro bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Abdullah Azmatkhan bin Abdul Malik bin ‘Alwi ‘Ammil Faqih bin Muhammad Shohib Mirbath bin ‘Ali Khali Qasam bin ‘Alwi Shohib Baiti Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shaouma’ah bin ‘Alwi al-Mubtakir bin ‘Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin ‘Isa An-Naqib bin Muhammad An-Naqib bin ‘Ali Al-’Uraidhi bin Imam Ja’far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah.

Keluarga
Maulana Husin, memiliki banyak saudara di antaranya : Aludeen Abdullah, Amir Syah Jalalluddeen (Sultan Malabar), Alwee Khutub Khan, Hasanuddeen, Qodeer Binaksah, Ali Syihabudeen Umar Khan, Syeikh Mohamad Ariffin Syah (Datuk Kelumpang Al Jarimi Al Fatani) dan Syeikh Thanauddeen (Datuk Adi Putera) .
Maulana Husain memiliki beberapa nama panggilan, diantaranya Sayyid Husain Jamaluddin, Syekh Maulana Al-Akbar atau Syekh Jamaluddin Akbar Gujarat, beliau tercatat memiliki isteri 5 orang, yaitu :
1. Puteri Nizam Al Mulk dari Delhi
Memperoleh seorang anak, yang kemudian dikenal dengan nama Maulana Malik Ibrahim (Kakek Bantal).
2. Puteri Linang Cahaya (menikah tahun 1350 M)
Memperoleh anak bernama Puteri Siti Aisyah, yang kemudian menjadi isteri Syeikh Khalid Al Idrus (Adipati Jepara)
3. Puteri Ramawati binti Sultan Zainal Abidin (Menikah tahun 1355 M)
Memperoleh seorang anak yang bernama Maulana Ibrahim Al Hadrami.
4.Puteri Syahirah dari Kelantan (Menikah tahun 1390 M)
Memperoleh seorang anak bernama Ali Nurul Alam
5.Puteri Jauhar (Diraja Johor)
Memperoleh anak bernama :
- Muhammad Berkat Nurul Alam
- Muhammad Kebungsuan

Sejarah Dakwah
Pada tahun 1349 M besama adiknya Syeikh Thanauddeen (Datuk Adi Putera) , tiba di Kelantan dalam menjalankan misi dakwahnya.
Dari Kelantan beliau menuju Samudra Pasai, dan beliau kemudian bergerak ke arah Tanah Jawa. Di Jawa beliau menyerahkan tugas dakwah ke anakanda tertuanya Maulana Malik Ibrahim. Beliau sendiri bergerak ke arah Sulawesi dan mengislamkan Raja Lamdu Salat pada tahun 1380 M.
Pada awal abad ke-15, Maulana Husin mengantar puteranya Maulana Ibrahim Al Hadrami ke tanah Jawa, tujuannya dalam upaya menyambung usaha-usaha dakwah anak tertuanya, Maulana Malik Ibrahim yang meninggal dunia pada tahun 1419 M.
Pada akhirnya beliau memutuskan untuk bermukim di Sulawesi, hal ini dikarenakan, sebagian besar orang Bugis ketika itu belum masuk Islam. Pada tahun 1453 M, Maulana Husin di panggil menghadap ILLAHI, dan dimakamkan di Wajo Sulawesi.

Datuk Ibrahim, Penyebar Agama Islam di Banyuwangi
Malam Jumat legi menjadi salah satu malam yang oleh umat muslim dipercaya sebagai malam yang banyak barokah. Begitu pula di makam Datuk Malik Ibrahim, Kabupaten Banyuwangi.
Ratusan umat muslim datang dari segala penjuru memadati areal makam salah satu ulama penyebar Islam di pesisir timur Jawa. Datuk Malik Ibrahim Bauzir, begitu dia dikenal oleh umat muslim di Banyuwangi, merupakan tokoh muslim yang dikenal gigih dalam menyebarkan Islam di pulau Bali dan Jawa.

Pada tahun 1770, ia telah menyebarkan Islam di daerah Negara, Bali. Kemudian hijrah ke Banyuwangi pada tahun 1840, dan bertempat tinggal di lingkungan keramat, Desa Lateng, Kecamatan Banyuwangi.

H Abdul Kadir Bauzir keturunan generasi ke-5 dari Datuk Malik Ibrahim menuturkan, kondisi ramainya pengunjung ini terjadi setiap hari. Usai maghrib, para peziarah yang mengunjungi makam ini datang. Tak hanya dari luar pulau saja, juga ada Warga Malaysia dan Singapura.

"Peziarah makam ini ramai setiap harinya, apalagi malam Jumat Legi seperti ini," jelasnya.

Selain bertujuan ziarah, banyak pula mereka yang datang untuk mendapatkan manfaat dan doa dari Datuk Malik Ibrahim. Salah satunya Aswiyah warga Batu Pujon, Malang.

Aswiyah mengaku datang berombongan dengan peziarah yang lain. Selain ngalab berkah, ia juga mengharapkan kesembuhan putrinya yang kondisi kakinya tidak bisa berjalan normal.

Komplek makam Datuk Malik Ibrahim berada di bagian tengah, di samping mushola yang biasa digunakan oleh para santri dan peziarah untuk bertawaduk, dan berdzikir. Sedangkan di bagian luar makam, ada makam yang di antaranya adalah makam para cantrik Datuk Malik Ibrahim dulunya.

Saat ini perawatan untuk menjaga dan merawat kondisi makam, diperoleh dari kerelaan para peziarah. Memang di samping makam ini disediakan kotak amal, tanpa tulisan yang mengharuskan untuk beramal. Namun setiap peziarah yang datang, setelah melakukan tabur bunga dan mengaji di samping makam, mereka mengisi kotak amal tersebut dengan sendirinya.

Haji Abdul Kadir Bauzir, keturunan generasi ke-5 dari Datuk Malik Ibrahim, sampai saat ini masih menjaga dan merawat makam leluhurnya bersama dengan anggota keluarga dan para peziarah yang datang.

Jika ingin berziarah ke Makam Beliau, Klik "Maps" dibawah ini, Maka akan diarahkan sesuai tujuan anda :



NB : JIKA TULISAN INI MEMBANTU MOHON ISI KOLOM KOMENTAR DIBAWAH, BERI KRITIK DAN SARAN AGAR DAPAT BERKEMBANG SELALU KONDISI YANG ADA. JIKA ADA REQUEST TENTANG KULINER YANG AKAN DIANGKAT MOHON DIKIRIM PADA MENU "CONTACT US".

ISLAM DALAM MASALAH HARTA DAN JABATAN


ISLAM DALAM PERSOALAN HIDUP DAN KERJA


HAKEKAT MUAMALAH


AKHLAK DALAM SOSIAL


AKHLAK DALAM KELUARGA


MACAM-MACAM AKHLAK


PENGERTIAN AKHLAK


APAKAH ITU IBADAH MALIAH (?)


HAKEKAT HAJI


HAKEKAT PUASA


HAKEKAT SHOLAT


HAKEKAT IBADAH


SYIRIK PADA ZAMAN MODERN


SYIRIK DAN BAHAYA-NYA BAGI MANUSIA


SYIRIK DAN BAHAYA NYA BAGI MANUSIA
1. PENGERTIAN SYIRIK
2. BENTUK- BENTUK SYIRIK
3. PENYEBAB TERJADINYA SYIRIK PADA MANUSIA
4. TINDAKAN RASULULLAH DALAM MENANGKAL SYIRIK



I. PENGERTIAN SYIRIK 

Syirik adalah itikad ataupun perbuatan yang menyamakan sesuatu selain Allah dan disandarkan pada Allah dalam hal rububiyyah dan uluhiyyah. Umumnya, menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah yaitu hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, seperti berdo'a kepada selain Allah, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih (kurban), bernadzar, berdo'a dan sebagainya kepada selainNya. 

Syirik termasuk hal yang merusak tauhid seseorang, bahkan syirik besar dapat menyebabkan seseorang keluar dari Islam dan diharamkan masuk syurga dan ditetapkan sebagai penghuni neraka. 

Agar kita memiliki pemahaman yang luas mengenai syirik, pada tulisan ini akan dijelaskan jenis-jenis syirik dan bahayanya, sebagaimana dikemukakan oleh para ulama’ ahli tauhid, di antaranya oleh Dr Ibrahim Muhammad bin Abdullah Al-Buraikan di dalam bukunya Al Madkhalu li Dirasatil ‘Aqidatil Islamiyyah ‘ala Madzhabi Ahlissunnah wal Jama’ah. 


II. BENTUK-BENTUK SYIRIK 

Syirik, bila ditinjau dari segi pengertiannya, mencakup dua macam: 

Pertama, arti umum: yakni menyamakan selain Allah dengan Allah dalam apa-apa yang termasuk (hak-hak) khusus bagi Allah. 

Atas dasar makna ini, maka syirik dibagi menjadi tiga jenis: 

a. Syirik dalam rububiyah. Maksudnya menyamakan Allah dengan sesuatu yang lain dalam hal rububiyah yang menjadi kekhususan Allah atau menisbatkan salah satu makna rububiyah kepada sesuatu atau seseorang, seperti menciptakan, memberikan rezeki, menghidupkan, mematikan dan lainnya. Jenis ini biasanya disebut tamtsil (penyerupaan) atau ta’thil (peniadaan). 

b. Syirik dalam uluhiyah. Maksudnya, menyamakan sesuatu atau seseorang dalam kelayakan disembah dan ditaati yang menjadi kekhususan Allah SWT. Seperti sholat, puasa, nadzar dan menyembelih kurban untuk selain Allah SWT. Jenis ini secara umum disebut syirik. 

c. Syirik dalam al-asma’ was sifat (nama-nama dan sifat-sifat) Allah. Maksudnya, menyamakan sesuatu atau seseorang dengan Allah dalam nama dan sifat yang menjadi kekhususan Allah. Jenis ini biasanya juga disebut tamtsil (penyerupaan). Seperti: menyamakan sifat-sifat dzatiyah Allah (wajah, tangan, mendengar, melihat dan lainnya) serupa dengan sifat makhluk, atau memberikan sifat-sifat yang khusus bagi Allah untuk makhluk, seperti sifat mengetahui yang ghaib, mengetahui segala sesuatu, hadir dan melihat di setiap tempat, dan. 

Kedua, arti khusus: Yaitu menjadikan seseorang atau sesuatu selain Allah sebagai tuhan yang berhak diibadahi disamping Allah. Sedang jenis-jenis ibadah diantaranya: doa, takut, tawakkal, isti’anah (permintaan tolong), Isti’adzah (minta perlindungan), nadzar, menyembelih, sujud dan lainnya. 

Inilah makna syirik secara langsung dipahami ketika ia disebut dalam Al Qur’an, Sunnah dan ucapan kaum Salaf. Maka siapa saja yang menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai sembahan yang ditaati selain Allah, maka ia disebut musyrik, dalam bahasa wahyu dan atsar.
Allah SWT berfirman dalam surat Yunus ayat 18: 

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ – يونس : 18 

Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada Kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi Maha suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). (Qs. Yunus: 18) .

Selain itu, orang yang meyakini adanya hak membuat syari’at pada sesuatu atau seseorang selain Allah SWT, juga menjadi musyrik. 

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ – المائدة : 49 

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik (Qs. al-Maidah: 49) 

Jadi, Allah SWT menjadikan proses menciptakan dan memerintah sebagai hak-Nya semata. Dialah yang membuat syari’at bagi makhluk-Nya karena Dialah pemilik mereka. Adapun sekutu selain Allah, maka mereka tidak berhak untuk itu. Sebab, makhluk ini bukan ciptaanya, sehingga ia tidak berhak memerintah mereka. 

Dengan demikian, kata syirik, jika diucapkan tanpa ikatan konotasi tertentu, ia meliputi pengertian ibadah kepada selain Allah dan meyakini adanya hak membuat syari’at bagi sembahan lain selain Allah. 

Selain ditinjau dari segi pengertiannya, syirik juga ditinjau dari segi hukum dan bobot dosanya. Dalam hal ini syirik dibagi menjadi 3 jenis, yaitu: 

Pertama: Syirik Akbar
Syirik akbar (syirik paling besar) yaitu menjadikan sekutu selain Allah SWT yang disembah dan ditaati sama seperti menyembah dan mentaati Allah SWT. Seperti shalat untuk selain Allah, berpuasa untuk selain Allah, menyembelih hewan (kurban) untuk selain Allah, berdoa untuk orang yang sudah mati, berdoa kepada orang yang tidak ada di hadapannya untuk menolongnya dari urusan yang hanya Allah saja yang berkuasa, dan lainnya. 

Kedua: Syirik Asghar
Syirik asghar (syirik paling kecil) adalah menyamakan sesuatu selain Allah dengan Allah SWT dalam bentuk perkataan atau perbuatan. Syirik dalam bentuk amalan adalah riya’. Sedangkan dalam bentuk perkataan lisan adalah lafadz-lafadz yang mengandung makna menyamakan Allah SWT dengan sesuatu yang lain. Misalnya, ia mengatakan: “Apa yang dikehendaki Allah dan engkau kehendaki”. Mengenai soal satu ini niscaya jelas maknanya setelah kita membaca hadits berikut. 

Dalam Hadits disebutkan: 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَكَلَّمَهُ فِى بَعْضِ الأَمْرِ فَقَالَ الرَّجُلُ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« أَجَعَلْتَنِى وَاللَّهَ عَدْلاً بَلْ مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ ».. – واه البيهقي 

“Dari Ibnu Abbas: seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW -membicarakan suatu urusan-, lalu ia berkata kepada beliau “ma sya’aal wa syi’ta (Apa yang dikehendaki Allah dan engkau kehendaki). Rasulullah SAW bersabda: engkau telah menjadikanku dan Allah sebanding, tetapi ucapkan masy’allah (Apa yang dikehendaki Allah) sendiri. (HR al-Baihaqi). 

Dalam Hadits riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ 

“Dari Abu Hurairah dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa diteliti yang karenanya ia terlempar ke neraka sejauh antara jarak ke timur.” 

Dalam riwayat Imam Ahmad: 

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الرِّيَاءُ 

“Sungguh perkara yang paling kutakutkan dari kalian adalah syirik kecil, lalu ketika beliau ditanya tentang hal itu, beliau menjawab:” Riya”.” 

Ketiga : Syirik Khafi
Syirik khafi (tersembunyi) adalah syirik yang berada antara syirik akbar dan syirik asghar. Atau dengan kata lain, syirik yang dimungkinkan bisa termasuk syirik akbar atau syirik ashghar. Seperti: Bersumpah dengan selain nama Allah adalah syirik ashghar, tetapi jika yang bersumpahnya itu dengan keyakinan bahwa yang dia pakai untuk sumpah itu menyamai keagungan Allah maka ini termasuk syirik akbar. 

Berdasarkan pengertian di atas, pada hakikatnya, syirik, ditinjau dari segi hukum dan bobotnya, dapat digolongkan ke dalam dua jenis, yaitu: syirik akbar, yakni syirik yang terkait dengan keyakinan hati, dan syirik asghar yakni syirik yang terkait dengan perbuatan, perkataan lisan dan motivasi hati yang tersembunyi. 

Nampaknya pembagian syirik menjadi tiga jenis di mana syirik khofi merupakan bagian yang ketiganya, didasarkan pada kenyataan bahwa syirik khofi bisa berubah menjadi syirik akbar atau syirik asghar. Kesubliman dan kesamaran itu menuntut kehati-hatian yang tinggi. Agar jangan sampai syirik akbar dianggap syirik asghar atau sebaliknya. 

Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Imam Ahmad berikut ini, yang menurut ulama hadits ternama Al-Bani, bernilai hasan li ghairih: 

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ 

“Wahai manusia jagalah dirimu dari syirik, karena ia lebih tersembunyi daripada rayapan semut. Seseorang yang dikehendaki Allah bertanya: bagaimanakah kami menjaganya ya Rasulullah padahal ia lebih tersembunyi dari rayapan semut. Beliau menjawab: ucapkanlah ‘ Ya Allah sesungguhnya kami mohon perlindungan kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui dan mohon ampun kepada-Mu dari sesuatu yang tidak kami ketahui‘ (HR. Ahmad). 


III. PENYEBAB TERJADINYA SYIRIK PADA MANUSIA 

Memahami sebab-sebab terjadinya kesyirikan adalah perkara yang sangat penting, agar kita dapat menjauhkan diri darinya, sebab kesyirikan adalah dosa yang paling besar. Karena Allah telah mengabarkan dalam firman-Nya bahwa orang yang melakukan kesyirikan maka akan diharamkan baginya syurga dan Allah tidak akan mengampuni dosa syirik jika pelakunya tidak bertobat. Sehingga seorang muslim seharusnya berhati-hati dan sangat takut untuk terjerumus kepadanya. Bahkan Rasulullah sendiri selalu memohon perlindungan kepada Allah dari kesyirikan dalam do’a yang beliau panjatkan 

“Ya Allah, sesungguhnya aku berselindung kepada-Mu dari perbuatan syirik sedang aku mengetahuinya dan aku memohon ampun kepada-Mu dari yang tidak aku ketahui”. (HR. Ahmad 4/403 dan lihat Shahih Al-Jami’ 3/233). 

Pada dasarnya penyebab timbulnya kesyirikan sangat banyak sekali, dan pada pembahasan singkat ini kita berusaha menyebutkan pokok-pokoknya yang kemudian dari pokok inilah menjadi bercabang, diantara pokok-pokok tersebut adalah : 

a. Rasa kagum dan mengagumkan 

Fithroh manusia itu kagum terhadap kepahlawanan dan kebesaran seseorang dan kagum terhadap sesuatu yang diluar kemampuan orang lain,sebenarnya kagum yang seperti ini tidak di cela dan tidak membahayakan fithroh yang lurus, bahkan kadang- kadang mala di perintahkan, seperti seorang anak kagum terhadap kedua orang tuanya, kagum yang seperti ini, itu di perintahkan. Sebagaimana Firman Allah Ta’alah: 

“Dan Robmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “Ah “ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia .Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah : Wahai Robku kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” ( QS Al Israa’ : 23-24 ). 

Demikian juga mengagungkan nabi dan para rosul juga di perintahkan. Firman Allah Ta’ala: 

وما أرسلنا من رسول إلا ليطاع بإذن الله ( النساء : 64 ) 

“Dan kami tidak mengutus seorang rosul, melainkan untuk di ta’ati dengan idzin Allah” ( Qs An Nisa’ : 64 ). 

Demikian juga mengagungkan para ulama’ dan orang orang yang sholeh dari umat ini adalah wajib. Sabda Rosul “ Ulama’ adalah pewaris para nabi “ ( HR Bukhori ). 

Dalam sabdanya yang lain : 

ليس منا من لم يوقر كبيرنا ويعرف لعالمنا فضله ( رواه أحمد ) 

“Bukan dari glongan kami orang yang tidak menghormati orang yang besar dan mengetahui keutamaan orang alim diantara kami “ ( HR Ahmad ). 

Kekaguman terhadap seseorang itu akan menjadi sesat jika sampai pada pengkultusan, jika sampai mengkultuskan berarti ia telah memasuki daerah syirik.Karena pengkultusan itu tidak di perbolehkan kecuali hanya kepada Allah saja. Jika seseorang telah mengkultuskan orang atau sesuatu berarti ia telah melakukan dosa syirik. Hal yang seperti ini pernah dilakukan oleh orang orang zaman dahulu Dalam Firman Allah Ta’ala: 

“Nuh berkata : Ya Robku : sesungguhnya mereka telah mendurhakaiku, dan telah mengikuti orang orang yang harta dan anak anaknya tidak menambahnya melainkan kerugian belaka. Dan melakukan tipu daya yang amat besar dan mereka berkata: janganlah sekali kali kamu meninggalkan tuhan tuhan kamu dan janganlah sekali kali kamu meninggalkan wadd, dan jangan pula suwa’, yaghuts ,ya’uq,dan nasr.” ( QS Nuh : 21-23 ). 

Ibnu katsir berkata dalam menafsiri ayat ini : Yaghust, ya’uq dan nasr mereka adalah orang orang yang sholeh antara nabi adam dan nuh, dan mereka mempunyai pengikut yang setia, ketika mereka sudah meninggal maka berkatalah para pengikutnya: Seandainya kita menggambar mereka maka kita akan lebih rajin ibadah dan kita selalu ingat mereka, maka mereka menggambarnya, tatkala pengikutnya sudah meninggal dan datanglah generasi selanjutnya, maka iblis datang kepada mereka dan menggoda mereka seraya berkata: Sesungguhnya mereka dulu itu menyembah mereka dan memintak hujan sama mereka, maka mereka menyembahnya. 

b. Percaya kepada hal-hal yang tidak dapat di lihat dan tidak percaya kepada hal-hal yang tidak dapat di lihat 

Allah memberikan kepada manusia fithroh yaitu dua kecenderungan,yang pertama, condong atau percaya kepada hal hal yang dapat di indra, maksudnya yaitu yang dapat di raba, yang dapat di lihat dengan mata, didengar, dicium dan dapat di pegang.yang kedua, condong atau percaya pada hal hal yang ghoib, maksudnya yaitu hal-hal yang tidak dapat diraba atau di lihat dengan mata. Sebagaimana 

telah di jelaskan diatas bahwa hati itu bisa tertimpa penyakit jika tidak di jaga dan tidak tidak di beri gizi yang sholeh, seperti dzikir kepada Allah dan dengan amalan-amalan yang sholeh dan hati akan tertimpa penyakit jika melupakan hal hal yang tidak dapat di indra dan hanya percaya pada hal hal yang dapat di indra saja, jika ini berlanjut lama kelamaan akan mengingkari adanya Allah.sebagaimana perkataan seorang musyrik kepada Allah. 

لا تدركه الأبصار وهو يدرك الأبصار وهو اللطيف الخبير ( الأنعام : 103 ) 

“Dia tidak dapat di lihat oleh penglihatan mata, sedang dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah yang maha halus lagi maha mengetahui.” ( Qs Al An’am : 103 ). 

Bahkan bani isroil sampai derajat yang sangat buruk ketika mereka berkata kepada Musa 

لن نؤمن لك حتى نرى الله جهرة ( البقرة : 55 ) 

“Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang.”( QS Al Baqoroh : 55 ) 

c. Hawa dan syahwat 

Penyakit hati yang lain yang dapat menyebabkan seseorang jatuh kepada kesyirikan yaitu hawa nafsu dan syahwat. Bahwasanya agama islam di turunkan oleh Allah itu lengkap dengan peraturan-peraturan dan hukum-hukum dan para manusia wajib melaksanakan peraturan-peraturan dan hukum-hukum yang Allah tetapkan dalam kehidupan mereka. Dan hati yang bersih, fitrah yang lurus akan cenderung menerima apa yang di wajibkan oleh Allah, akan tetapi jika hati itu di kalahkan oleh hawa nafsu dan syahwat maka akan cenderung menolak dan memberontak terhadap hukum-hukum yang di tetapkan oleh Allah.Disebutkan dalam Firman-Nya: 

وإذا قيل لهم اتبعوا ما أنزل الله قالوا بل نتبع ما وجدنا عليه آباءنا ( لقمان : 21 ) 

“Dan apabila di katakan kepada mereka : Ikutilah apa yang di turunkan oleh Allah mereka menjawab : Tidak, tapi kami hanya mengikuti apa yang kami dapati bapak bapak kami mengerjakannya.” ( QS Luqman : 21 ). 

Dan Firman Allah yang lain : 

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti yang jelek yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsunya.” ( QS Maryam : 59 ). 

Dan Firman Allah yang lain : 

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapatkan petunjuk dari Allah sedikitpun.” ( QS Al Qoshosh : 50 ). 

Dan orang yang mengikuti dan menuruti hawa nafsu itu lebih mementingkan kehidupan dunia daripada akherat. 

d. Sombong untuk beribadah kepada ALLAH 

Sombong adalah salah satu diantara macam penyakit hati yang dapat menjerumuskan seseorang kepada kesyirikan. Kesombongan itu di mulai dari sombong kepada manusia dan berakhir sombong terhadap beribadah kepada Allah. Rosul bersabda : 

“Tidak akan masuk jannah orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walaupun seberat biji atom.” ( HR Muslim ). 

Biasanya orang yang sombong itu mereka memiliki harta yang banyak atau mempunyai kekuasaan.Dan orang yang sombong adalah orang paling gila meskipun sebenarnya ia adalah orang yang waras. 

Sebagaimana kisah Fir’un yang di sebutkan dalam Al Qur’an : 

“Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya seraya berkata : Hai kaumku, bukankah kerajaan mesir ini kepunyaanku dan bukankah sungai sungai ini mengalir di bawahku ; maka apakah kamu tidak melihatnya.” ( QS Az Zukhruf : 51 ). 

Dan firman Allah yang lain : 

“Pergilah kamu kepada fir’aun, sesungguhnya dia telah melampui batas. Dan katakanlah kepada Fir’aun : Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri dari kesesatan .Dan kamu akan ku pimpin ke jalan Robmu agar supaya kamu takut kepada-Nya.Lalu musa memperlihatkan kepadanya mu’jizat yang besar. Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian ia berpaling seraya berusaha menantang Musa. Maka dia mengumpulkan pembesar-pembesarnya lalu berseru memanggil kaumnya. Seraya berkata : Aku tuhanmu yang paling tinggi. Maka Allah mengadzabnya dengan adzab di akherat dan adzab di dunia.” ( QS An Nazi’aat : 17-25 ).

Dan masih banyak contoh-contoh orang-orang yang sombong pada zaman dahulu, yang di mulai dari kesombongan terhadap manusia dan akhirnya sombong terhadap beribadah kepada Allah. 

e. Adanya para thoghut 

Sebab-sebab syirik pada sejarah zaman jahilayah adalah adanya para thoghut dari manusia yang menginginkan supaya manusia itu menyembah pada dirinya, dan supaya manusia itu mengikuti kehendaknya dan menolak hukum-hukum Allah. Dan mereka mengangkat diri mereka sebagai robb dan tuhan tuhan selain Allah. Dan para thoghut dalam Al Qur’an di namakan “ Al Mala’ “ mereka adalah orang yang pertama kali mendustakan para rosul. 

Firman Allah Ta’ala: 

“Sesungguhnya kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata : Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Rob bagimu selain-Nya, sesungguhnya kalau kamu tidak menyembah-Nya aku takut kamu akan di timpa adzab hari yang besar ( kiamat ). Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata : Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata.” ( QS Al A’rof : 59-60 ). 

Dan masih banyak contoh-contoh yang lain yang di sebutkan dalam Al Qur’an.Demikianlah para thoghut itu selalu mendustakan para rosul dan mereka tidak cukup hanya dengan mendustakan saja, bahkan mereka juga mengintimidasi. 


IV. TINDAKAN RASULULLAH DALAM MENANGKAL SYIRIK 

Syirik itu menyekutukan Allah. Menyekutukan Allah adalah dosa besar yang paling besar, setiap orang yang meninggal di atas kesyirikan kekal di neraka selama-lamanya. Sementara, Rasulullah shallallahu 'alaihi was sallam sangatlah menyayangi umatnya, sangat ingin agar kita terhindar dari kesyirikan. Karena itulah Rasulullah shallallahu 'alaihi was sallam berupaya menutup pintu-pintu kesyirikan, dengan cara sebagai berikut : 

1. Beliau melarang kita dari melakukan perbuatan menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. 

2. Larangan menjadikan kubur beliau sebagai ‘ied (tempat yang didatangi berulang-ulang). 

3. Larangan bersafar menuju tempat yang dianggap berkah kecuali tiga masjid (Masjid Haram, Masjid Nabawi, Masjid Aqsa). 



NB : JIKA TULISAN INI MEMBANTU MOHON ISI KOLOM KOMENTAR DIBAWAH, BERI KRITIK DAN SARAN AGAR DAPAT BERKEMBANG SELALU SESUAI KONDISI YANG ADA.




-TERIMA KASIH-
-SEMOGA BERMANFAAT-





KONSEP AQIDAH DALAM ISLAM



KONSEP AQIDAH  DALAM ISLAM :
1. PENGERTIAN AQIDAH DAN RUANG LINGKUP PEMBAHASAN AQIDAH.
2. SUMBER DAN FUNGSI AQIDAH.
3. PRINSIP-PRINSIP AQIDAH ISLAM



I. PENGERTIAN AQIDAH DAN RUANG LINGKUP PEMBAHASAN 


1.A. PENGERTIAN AQIDAH ISLAM


‘Aqidah (اَلْعَقِيْدَةُ) menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu (الْعَقْدُ) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu (التَّوْثِيْقُ) yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (اْلإِحْكَامُ) yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquw-wah (الرَّبْطُ بِقُوَّةٍ) yang berarti mengikat dengan kuat.

Sedangkan menurut Istilah (terminologi), ‘aqidah adalah iman yang teguh dan pasti tanpa ada keraguan sedikit pun bagi orang yang meyakininya.

Jadi ‘Aqidah islamiyyah adalah keimanan yang bersifat teguh dan pasti kepada Allah SWT, dengan segala kewajiban, bertauhid, dan ta’at kepada-Nya, beriman kepada Malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, Kitab-kitab-Nya, hari akhir, takdir baik dan buruk, dan mengimani seluruh apa-apa yang telah sahih tentang prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensu) dari Shalafush shalih, serta seluruh brita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiyah maupun secara amaliyah yang telah di tetapkan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shalih.


1.B. RUANG LINGKUP PEMBAHASAN AQIDAH ISLAM


Dalam pembinaan akhlak mulia merupakan ajaran dasar dalam Islam dan pernah diamalkan seseorang, nilai-nilai yang harus dimasukkan ke dalam dirinya dari semasa ia kecil. Ibadah dalam Islam erat sekali hubungannya dengan pendidikan aqidah dan akhlak. Ibadah dalam Al-Qur’an dikaitkan dengan taqwa, dan taqwa berarti pelaksanaan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Larangan Allah berhubungan perbuatan tidak baik, orang bertaqwa adalah orang yang menggunakan akalnya dan pembinaan akhlak adalah ajaran paling dasar dalamIslam.

Hasan al-Banna mengatakan bahwa ruang lingkup aqidah islam meliputi ilahiyah, nubuwwah, ruhuniyah, dan sam’iyah.

1. Ilahiyah
Ilahiyah yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah, seperti wujud, nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan Allah swt.

a. Wujud Allah SWT

Bagaimana kita mengetahui wujud Allah? Jawabannya, ketika kita melihat matahari, bulan, bintang dan planet bergerak teratur, malam dan siang berganti dengan keteraturan yang amat detil. Mungkinkah mereka bergerak sendiri? Tidak diragukan lagi bahwa semuanya telah diciptakan dan diatur oleh Allah swt. Jika Allah tidak ada, kita memohon ampunan kepada-Nya mustahil matahari, bulan, bintang-bintang, planet, siang, dan malam menjadi ada dan bertahan dengan pergerakannya yang amat teratur. Dengan demikian pula tidak akan ada makhluk yang sangat tergantung dengan mereka semua.

Wujud Allah telah dibuktikan oleh fitrah, akal, syara’ dan indera.

1) Dalil Fitrah

Bukti fitrah tentang wujud Allah adalah bahwa iman kepada sang Pencipta merupakan fitrah setiap makhluk, tanpa terlebih dahulu berpikir atau belajar. Tidak akan berpaling dari tuntutan fitrah ini, kecuali orang yang di dalam hatinya terdapat sesuatu yang dapat memalingkannya. Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Semua bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Kristen, atau Majusi. ” (HR. Al Bukhari)

Ketika seseorang melihat makhluk ciptaan Allah yang berbeda-beda bentuk, warna, jenis dan sebagainya, akal akan menyimpulkan ada semuanya itu tentu ada yang mengadakannya dan tidak mungkin ada dengan sendirinya. Dan panca indera kita mengakui adanya Allah di mana, kita melihat ada orang yang berdo’a, menyeru Allah dan meminta sesuatu, lalu Allah mengabulkan do’anya.

Adapun tentang pengakuan fitrah telah disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur’an:

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu menurunkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu’ Mereka menjawab: ‘ (Betul Engkau Tuhan kami) kami mempersaksikannya (Kami lakukan yang demikian itu) agar kalian pada hari kiamat tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami bani Adam adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Mu) atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang setelah mereka.’” (QS. Al A’raf: 172-173).

Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa fitrah seseorang mengakui adanya Allah dan juga menunjukkan, bahwa manusia dengan fitrahnya mengenal Rabbnya. Adapun bukti syari’at, kita menyakini bahwa syari’at Allah yang dibawa para Rasul yang mengandung maslahat bagi seluruh makhluk, menunjukkan bahwa syari’at itu datang dari sisi Dzat yang Maha Bijaksana.



2) Dalil Al Hissyi (Dalil Indrawi)


Bukti indera tentang wujud Allah dapat dibagi menjadi dua:

a) Kita dapat mendengar dan menyaksikan terkabulnya doa orang-orang yang berdoa serta pertolongan-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan musibah. Hal ini menunjukkan secara pasti tentang wujud Allah.

b) Tanda-tanda para Nabi yang disebut mu’jizat, yang dapat disaksikan atau didengar banyak orang merupakan bukti yang jelas tentang keberadaan Yang Mengutus para Nabi tersebut, yaitu Allah, karena hal-hal itu berada di luar kemampuan manusia. Allah melakukannya sebagai pemerkuat dan penolong bagi para Rasul.

3) Dalil ‘Aqli (dalil akal pikiran)

Bukti akal tentang adanya Allah adalah proses terjadinya semua makhluk, bahwa semua makhluk, yang terdahulu maupun yang akan datang, pasti ada yang menciptakan. Tidak mungkin makhluk menciptakan dirinya sendiri, dan tidak mungkin pula tercipta secara kebetulan. Tidak mungkin wujud itu ada dengan sendirinya, karena segala sesuatu tidak akan dapat menciptakan dirinya sendiri. Sebelum wujudnya tampak, berarti tidak ada.

Agama mengajari kita identitas Pencipta kita yang keberadaannya kita temukan melalui akal kita. Melalui agama yang diungkapkan kepada kita, kita tahu bahwa Dia itu Allah, Maha Pengasih dan Maha Pemurah, Yang menciptakan langit dan bumi dari kehampaan.

4) Dalil Naqli (Dalil Syara’)

Bukti syara’ tentang wujud Allah bahwa seluruh kitab langit berbicara tentang itu. Seluruh hukum yang mengandung kemaslahatan manusia yang dibawa kitab-kitab tersebut merupakan dalil bahwa kitab-kitab itu datang dari Rabb yang Maha Bijaksana dan Mengetahui segala kemaslahatan makhluknya. Berita-berita alam semesta yang dapat disaksikan oleh realitas akan kebenarannya yang didatangkan kitab-kitab itu juga merupakan dalil atau bukti bahwa kitab-kitab itu datang dari Rabb yang Maha Kuasa untuk mewujudkan apa yang diberitakan itu.

Demikian juga adanya para Rasul dan agama yang bersesuaian dengan kemaslahatan umat manusia menunjukkan adanya Allah, karena tidak mungkin ada agama dan Rasul kecuali ada yang mengutusnya.Akan tetapi agama-agama yang ada selain Islam telah mengalami penyimpangan dan perubahan sehingga mereka menyimpang dari jalan yang lurus.

Setelah kita mengenal dan mengimani keberadaan Allah sebagaimana telah dijelaskan diatas, maka perlu kita kenali Allah sebagai Rabb yang telah menciptakan, memiliki dan mengatur semua makhluknya, Dialah satu-satunya pencipta yang mengadakan sesuatu dari ketiadaan.

Dari semua dalil-dalil yang dapat dilihat di atas itu adalah berfungsi menguatkan pandangan kita betapa keagungan Allah swt begitu luar biasa dan menundukkan kita sendiri di hadapan keagungan ini. Langsung mencetuskan Tauhidullah yang luar biasa.

B. Mengenal sifat-sifat Allah swt (مَعْرِفَةُ صِفَاتِ اللهِ)

Bagaimana kita mengenal sifat Allah? Kita dapat mengenal sifat Allah swt melalui:

التَّفْكِيْرُ فِي مَخْلُوقَاتِ اللهِ Tafakkur (memikirkan) ciptaan Allah.

التَّعَلُّمُ مِنْ رُسُلِهِ Belajar dari ajaran yang dibawa para rasul.

2. Nubuwwah

Nubuwwah yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan nabi dan rasul, termasuk pembicaraan mengenai kitab-kitab Allah, mukjizat, dan keramat.

a. Nabi dan Rasul Allah

Nabi adalah manusia yang diberikan wahyu kepadanya dengan membawa syariat untuk diamalkan dan tidak diperintahkan untuk menyampaikannya. Sedangkan rasul adalah manusia yang diberikan wahyu kepadanya untuk diamalkan dan diperintahkan untuk menyampaikannya. Setiap rasul adalah nabi akan tetapi tidak setiap nabi adalah rasul.

b. Kitab-kitab Allah

Kitab-Kitab Samawi Yang Disebutkan Di dalam Al Quran: Shuhuf Ibrahim, Shuhuf Musa, Taurat, Zabur, Injil, dan Al Quran.

Nama-Nama Lain Al Quran: Al Furqan, At Tanzil, Adz Dzikru, Al Kitab, dan Al Quran.

Sifat – sifat Al-Qur’an: Nuur, Mubin, Huda, Syiifa, Rahmah, Mau’idzah, Basyir, Nazir, dan Mubarak.

c. Kedudukan Al Quran

1) Al Quran adalah manhaj tarbiyah islamiyah

2) Al Quran sebagai kitab syari’ah

3) Al Quran sebagai petunjuk jalan dalam kehidupan ini

4) Al Quran sebagai penyeru kepada penghayatan (taddabur) ayat-ayat Allah swt di dalam Al Quran atau alam ini

5) Al Quran sebagai mashdar ma’rifah (referensi) sejarah yang mulia

d. Mukjizat dan Keramat

Mukjizat membawa maksud suatu keadaan yang luar biasa berlaku atas kehendak dan kekuasaan Allah sebagai membuktikan kerasulan rasul-rasul yang telah dilantik.

Sedangkan keramat atau karamah juga adalah tergolong dalam hal-hal yang luar biasa yang terdapat pada diri seorang Wali Allah. Akan tetepi cara ianya tidak disertai dengan dakwah kenabian.

e. Jenis-Jenis Mukjizat

Mukjizat boleh dibagikan kepada dua jenis, yaitu:

a. Mukjizat Hissy

Mukjizat hissy ialah mukjizat yang dapat dicapai dan dirasai oleh pancaindera. Mukjizat jenis ini lebih mempengaruhi jiwa umum dan ianya mudah dimengerti oleh semua golongan manusia. Kebanyakan mukjizat yang Allah beri kepada para nabi dan rasul dari kalangan bani Israel ialah berupa mukjizat hissy.

Ini kerana umat manusia pada masa itu kecerdasan mereka terlalu rendah. Sebagai contohnya, mukjizat nabi Musa a.s adalah terletak pada tongkatnya yang boleh bertukar menjadi ular. Manakala Nabi Isa a.s pula boleh menyembuhkan penyakit sopak, menghidupkan orang yang sudah mati dan sebagainya.

b. Mukjizat Aqli

Mukjizat Aqli ialah mukjizat yang hanya dapat difahami oleh manusia dengan akal serta mata hati sahaja. Mukjizat jenis ini hanya dikurniakan kepada Nabi Muhammad sahaja iaitu Al Quran. Di samping itu Nabi Muhammad saw juga mempunyai mukjizat hissy, ini kerana umat yang dihadapi oleh Nabi Muhammad saw adalah bersifat yang kian hari kian maju fikirannya. Dengan lain perkataan mukjizat Al Quran itu boleh difahami dengan menggunakan akal fikiran yang murni dan mata hati memandangkan kandungannya adalah sesuai dengan ilmu pengetahun dan akal manusia serta terang terbukit kebenarannya.

3. Ruhaniyah

Ruhaniyah yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik, seperti malaikat, jin, iblis, dan roh.

4. Sam’iyah

Sam’iyah yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sama’i. Maksudnya, melalui dalil naqli berupa Al-Qur’an dan As-sunah, seperti alam barzakh, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiamat, surga, neraka, dan lainnya.


II. SUMBER DAN FUNGSI AQIDAH 


I.A. Sumber Aqidah Islam

Sumber aqidah Islam adalah Al-Qur’an dan sunnah. Artinya apa saja yang disampaikan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan oleh Rosulullah dalam sunahnya wajib diimani, yakni diyakini dan diamalkan. Akal pikiran bukanlah menjadi sumber aqidah Isalam, tetapi hanya berfungsi memahami nash-nash yang terdapat dalam kedua sumber tersebut. Itupun harus disadari oleh suatu kesadaran bahwa kemampuan akal sangat terbatas, sesuai dengan terbatasnya kemampuan semua makhluk Allah SWT.

1). Al-Qur’an, merupakan firman Allah SWT, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara mutawatir, atau bertahap dalam rentang waktu kurang lebih 23 tahun meliputi periode Mekkah dan Madinah. Al-Qur’an ini sebagai petunjuk bagi orang-orang yang diberi petunjuk. Al-Qur’an berlaku umum bagi seluruh ummat manusia dan berlaku sepanjang masa, tanpa bisa digeser oleh perkembangan zaman. Selain berisi tentang aqidah, Al-Qur’an juga mencakup seluruh aspek kehidupan, seperti aspek ekonomi, politik, hukum dan budaya, seni, ilmu pengetahuan dan lain-lain. Serta mencakup seluruh ruang lingkup kehidupan, seperti kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, bernegara dan dunia internasional.

Al Iman Asy Syatibi mengatakan bahwa sesungguhnya Allah telah menurunkan syariat ini kepada Rosul-Nya yang di dalamnya terdapat penjelasan atas segala sesuatu yang dibutuhkan manusia tentang kewajiban dan peribadatan yang dipikulkan diatas pundaknya, termasuk di dalamnya perkara aqidah. Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai sumber hukum aqidah karena Dia tahu kebutuhan manusia sebagai seorang hamba yang diciptakan untuk beribadah kepadanya. Bahkan jika dicermati, akan banyak ditemui banyak ayat dalam Al-Quran yang menjelaskan tentang aqidah, baik secara tersurat maupun tersirat.oleh karena itu, manjadi hal yang wajib kita mengetahui dan memahami aqidah yang bersumber dari Al-qur’an karena kitab mulia ini merupakan penjelasan langsung dari Rabb manusia, yang haq dan tidak pernah sirna ditelan masa.

2). Sunnah, merupakan segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Entah itu perbuatan maupun ucapannya. Sama halnya seperti Al-Qur’an, sunnah ini merupakan wahyu yang datang dari Allah, namun bukan dalam bentuk lafadz dari Nya. Sunnah ini dilakukan oleh Rosulullah yang didasarkan pada perintah Allah. Seperti dalam firman-Nya dalam QS. An-Najm:3-4, yang artinya, “dan dia (Muhammad) tidak berkata berdasakan hawa nafsu, ia tidak lain merupakan wahyu yang diwahyukan. “Allah menjadikan sunnah sebagai sumber hukum dalam agama. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya, “ Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu , maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa :59).

Firman Allah diatas menunjukkan bahwa tidak ada pilihan lain bagi seorang muslim untuk mengambil sumber-sumber hukum aqidah dari As-sunnah dengan pemahaman ulama. Ibnu Qayyim juga pernah berkata “ Allah memerintahkan untuk mentaati-Nya dan mentaati Rosul-Nya dengan mengulangi kata kerja (Taatilah) yang menandakan bahwa mentaati Rosul wajib secara independen tanpa harus mencocokkan terlebih dahulu dengan Al-Qur’an, jika beliau memerintahkan sesuatu. Hal ini dikarenakan tidak akan pernah ada pertentangan antara Qur’an dan Sunnah.

3). Ijma’ para ulama, Sumber aqidah yang berasal dari kesepakatan para mujtahid Umat Muhammad SAW setelah beliau wafat, tentang urusan pada suatu masa. Mereka bukanlah orang-orang yang sekedar tahu tentang ilmu tetap juga memahami dan mengamalkan ilmu. Berkaitan dengan ijma’, Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa: 115

“dan barang siapa menetang Rosul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan dia dalam kesehatan yang telah dilakukannya itu dan akan masukkan ia kedalam neraka jahannam dan itu seburuk-buruk tempat kembali”.

Imam Syafi’i menyebutkan bahwa ayat ini merupakan dalil pembolehan disunnatkannya Ijma’, yaitu diambil dari kalimat “jalannya orang-orang beriman” yang berarti Ijma’. Belaiu juga menambahkan bahwa dalil ini adalah Syar’i yang wajib untuk diikuti karena Allah menyebutkannya secara bersamaan dengan larangan menyelisihi Rosul.

Di dalam pengambilan Ijma’ terdapat juga beberapa kaidah-kaidah penting yang tidakboleh ditinggalkan. Ijma’ dalam masalah aqidah harus bersandarkan kepada dalil dari Al-Qua’an dan As- Sunnah yang shahih karena perkara aqidah adalah perkara tauqifiyah yang tidak diketahui kecuali dengan jalan wahyu. Sedangkan fungsi Ijma’ adalah menguatkan Al-Qur’an dan As-sunnah serta menolak kemungkinan terjadinya kesalahan dalam dalil yang dzani sehingga menjadi qotha’i.

4). Akal sehat manusia, Selain ketiga sumber diatas, akal juga menjadi sumber hukumaqidah dalam islam. Hal ini merupakan bukti bahwa islam sangat memuliakan akal sehat serta memberikan haknya sesuai dengan kedudukannya, dengan cara memberikan batasan dan petunjuk kepada akal agar tidak terjebak kedalam pemahaman-pemahaman yang tidak benar. Hal ini sesuai dengan sifat akal yang memiliki keterbatasan dalam memahami suatu ilmu atau peristiwa.

Agama islam tidak membenarkan pengagungan terhadap akal dan tidak pula membenarkan pelecehan terhadap kemampuan akal manusia, seperti yang biasa dilakukan oleh beberapa golongan (firqoh) yang menyimpang. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “akal merupakan syarat untuk memahami ilmu dan kesempurnaan beramal dengan keduanyalah ilmu dan amal menjadi sempurna, hanya saja ia tidak dapat berdiri sendiri, di dalam jiwa ia berfungsi sebagai sumber kekuatan, sama seperti kekuatan penglihatan pada mata yang jika mendapatkannya cahaya imam dan Al-Qur’an seperti mendapat cahaya matahari dan api. Tetapi jika berdiri sendiri, ia tidak akan mampu melihat (hakikat) sesuatu dan jika sama sekali dihilangkan ia akan menjadi sesuatu yang berunsur kebintangan”.

Eksistensi akal memiliki keterbatasan pada apa yang bisa dicerna tentang perkara-perkara nyata yang memungkinkan panca indra untuk menangkapnya. Adapun masalah-masalah gaib yang tidak dapat disentuh oleh panca indra maka tertutup jalan bagi akal untuk sampai pada hakikatnya. Sesuatu yang abstrak/gaib, seperti Aqidah tidak dapat diketahui oleh akal kecuali mendapatkan cahaya dan petunjuk wahyu baik dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih. Al-Qur’an dan As-sunnah menjelaskan bagaimana cara memahami dan melakukan masalah tersebut. Salah satu contohnya adalah akal mungkin tidak bisa menerima surga dan neraka karena tidak bisa diketahui indera. Akan tetapi melaui penjelasan yang berasal dari Al-Qur’an dan As-sunnah makan akan dapat diketahui bahwasanya setiap manusia harus mayakininya. Mengenai hal ini ibnu taimiyah mengatakan bahwa apa yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an, As-sunnah dan Ijma’ yang menyelisih akal sehat karena sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat adalah batil. Sedangkan tidak ada kebatilan dalam Al-Qur’an, sunnah, dan Ijma’. Tetapi padanya terdapat kata-kata yang mungkin sebagian orang tidak memahaminya atau mereka memahaminya dengan makna yang batil.

5). Fitrah kehidupan,

Dalam sebuah hadits Rosulullah SAW bersabda:

“Setiap anak yang lahir dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanya lah yang membuat ia menjadi yahudi, nasrani atau majusi” (HR Muslim).

Dari hadist dapat diketahui bahwa sebenarnya manusia memiliki kecenderungan untuk menghamba Allah. Akan tetapi bukan berarti bahwa bayi yang lahir telah mengetahui rincian agama islam. Setiap bayi yang lahir tidak mengetahui apa-apa. Tetapi setiap memiliki fitrah yang sejalan dengan islam sebelum dinodai oleh penyimpangan-penyimpangan. Bukti mengenai hal ini adalah fitrah manusia untuk mengakui bahwa mustahil ada dua penciptaan yang memiliki sifat dan kemampuan yang sama. Bahkan ketika ditimpa musibah pun banyak manusia yang menyeru kepada Allah seperti dijelaskan dalam firmannya: Qs Al-Israa:67

“dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang biasa kamu seru, kecuali Dia. Tapi ketika Dia menyelamatkan kamu kedaratan, kamu berpaling dari-Nya. Dan manusia memang selau ingkar (tidak bersyukur).


II.B. Fungsi Aqidah

Aqidah bisa kita ibaratkan sebagai fondasi atau dasar untuk mendirikan bangunan. Semakin tinggi bangunan yang akan didirikan, harus semakin kokoh pula fondasi yang dibuat. Kalau fondasinya lemah, maka bangunan tersebut akan cepat ambruk. Seseorang yang memiliki aqidah yang kuat, pasti akan melaksanakan ibadah dengan tertib, memiliki akhlak yang mulia dan bermuamalat dengan baik. Ibadah seseorang tidak akan diterima oleh Allah kalau tidak dilandasi dengan aqidah. Seseorang tidaklah dinamai berakhlak mulia bila tidak memiliki aqidah yang benar. Itulah mengapa Rosulullah SAW selama 13 tahun periode Mekkah memusatkan dakwahnya untuk membangun aqidah yang benar dan kokoh. Sehingga bangunan islam dengan mudah bisa berdiri di periode Madinah dan bangunan itu akan bertahan terus sampai hari akhir kiamat itu tiba atau terjadi.


III. PRINSIP – PRINSIP AQIDAH ISLAM 

1. Berserah diri kepada Allah dengan bertauhid
Orang yang berserah diri kepada Allah disebut dengan muwahid (ahli tauhid). Tauhid merupakan perbuatan mengesakan Allah yang aplikasinya adalah dengan beribadah semata-mata karena Allah, dan berserah diri kepada Allah. Orang yang menduakan Allah dalam ibadahnya, maka disebut sebagai musyrik.

2. Taat Kepada Allah
Taat kepada Allah, disini berarti menjalankan semua perintah Allah. Seorang muslim yang sejati, ketika ia mendengar perintah Allah, maka ia akan terus melaksanaan apa yang diperintahkan oleh Allah.

3. Berlepas diri dari Syirik
Tidak cukup ia hanya beribadah kepada Allah saja, ia juga harus berlepas diri dari syirik dan perilaku syirik. Prinsip seorang muslim adalah ia meyakini batilnya kesyirikan dan ia pun mengkafirkan orang-orang musyrik. Seorang muslim harus membenci dan memusuhi mereka karena Allah. Prinsip seorang muslim yaitu mencintai apa dan siapa yang Allah cintai dan membenci apa dan siapa yang Allah benci.

4. Pengakuan bahwa para nabi telah diangkat dengan sebenarnya oleh Allah SWT. Untuk menuntun ummatnya.

5. Kepercayaan akan adanya hari kebangkitan. Keyakinan seperti ini memberikan kesadaran bahwa kehidupan dunia bukanlah akhir dari segalanya.




NB : JIKA TULISAN INI MEMBANTU MOHON ISI KOLOM KOMENTAR DIBAWAH, BERI KRITIK DAN SARAN AGAR DAPAT BERKEMBANG SELALU SESUAI KONDISI YANG ADA.


-TERIMA KASIH-
-SEMOGA BERMANFAAT-

JASA PENGERJAAN TUGAS SEKOLAH DAN KULIAH-MU




SELAMAT DATANG DI BLOG COPY-INAJA. !!!
 "JASA PENGERJAAN TUGAS SEKOLAH DAN KULIAHMU SUDAH HADIR"

ASSALAMU ALAIKUM TEMAN-TEMAN
OM SWASTI ASTU
NAMONG BUDAYA 
SALAM KEBAJIKAN

HALO TEMAN-TEMAN... HALO SAHABATKU SE-BANGSA DAN SE-TANAH AIR
JIKA KALIAN TIDAK SEMPAT ATAU TIDAK ADA WAKTU BUAT NGERJAKAN TUGAS SEKOLAH (SD, SMP, SMA) DAN TUGAS KULIAHMU SERAHKAN AJA KE
 "TEAM COPY-IN AJA". 
PENGERJAAN DIKERJAKAN OLEH BEBERAPA AHLI DIBIDANGNYA....

DENGAN RINCIAN SEBAGAI BERIKUT :

1.  MENGERJAKAN TUGAS SEKOLAH (SD,SMP,SMA) MAUPUN KULIAH BERBENTUK SOAL ESSAY MAUPUN PILIHAN GANDA. 

2. MENGERJAKAN PEMBUATAN PPT (POWER POINT) DENGAN TEMA SUDAH DISEDIAKAN OLEH KONSUMEN ATAU BUYER. 

3. TIDAK MENGERJAKAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN SOAL-SOAL UJIAN, KARENA UNTUK MENGHINDARI PERJOKIAN. 

4.   TUGAS BISA DIKIRIM MELALUI EMAIL ATAU NOMOR YANG TERTERA DIBAWAH DIPROSES (1X24 JAM).

4.  PEMBAYARAN DILAKUKAN SETELAH ADA KABAR DARI TEAM JIKALAU TUGAS SUDAH READY.


Note :  Jasa ini bukan untuk membuat siswa & mahasiswa menjadi malas. Jasa ini murni untuk membantu para siswa dan mahasiswa yang mengalami kesulitan dan tak ada waktu  dalam mengerjakan PR / TUGAS.


UNTUK  PENGERJAAN BISA KONFIRMASI LANGSUNG MELALUI MENU "CONTACT" YANG TERSEDIA DI POJOK KANAN ATAS.


##########################################################################

TERIMAKASIH ATAS PERHATIANNYA
SEMOGA BERMANFAAT BAGI TEMAN-TEMAN & JIKA ADA SARAN/ MASUKAN KLIK PADA MENU "CONTACT" YA.

HORMAT KAMI,
Team Copy-In Aja.

ISLAM SEBAGAI WAY OF LIFE (JALAN KEHIDUPAN)


“ISLAM SEBAGAI WAYS OF LIFE"
 1. PENGERTIAN, TUJUAN, FUNGSI ISLAM
 2. SUMBER AJARAN ISLAM 
3. RUANG LINGKUP AJARAN ISLAM
4. KARAKTERISTIK AJARAN ISLAM


I. PENGERTIAN ISLAM, TUJUAN, FUNGSI ISLAM 
Istilah Islam berasal dari bahasa arab أَسْلَنَ – يُسْلِنُ – إِسْلََهًا yang berarti islam, damai, selamat, berserah diri. Selain itu sebagian ahli bahasa juga berpendapat bahwa Islam berasal dari kata استسلن – يستسلن – إستسلَم yang berarti tunduk, penyerahan diri secara total. 1. Dalam Al-Quran kata Islam tersebar dibeberapa ayat dan suroh yang masing-masing memiliki makna yang berdekatan, diantaranya :

1. Islam berasal dari kata "as-silmu " yang artinya damai.
“dan jika mereka condong kepada perdamaian, Maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Anfal:61).

2. Islam berasal dari kata "aslama " yang artinya menyerahkan diri (pasrah).
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya” (QS. An-Nisa:125).

3. Islam berasal dari kata "istalma mustaslima " yang artinya penyerahan total kepadaAllah. 
”Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri” (QS. Ash-Shaffat:26 ).

4. Islam berasal dari kata "saliimun salim " yang artinya bersih dan suci.
“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS. Asy-Syu 'ara:89 ).

5. Islam berasal dari kata "salamun dan "as-silmu " yang artinya damai dan selamat.
“Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku” (QS. Maryam:47).

Selain ayat-ayat di atas, terdapat berbagai ayat Al-Quran yang menggunakan istilah Islam dalam konsep totalitas sebuah agama yang sempurna (QS.2: Al-Baqoroh: 208) dan mengandung kebenaran mutlak (QS.3: Ali Imron: 19) tanpa ada peluang keselamatan akhirat bagi siapa saja yang memilih pedoman beragama selain Islam (QS.3: Ali Imron: 85).

II. TUJUAN DAN FUNGSI ISLAM 
Tujuan dan fungsi utama diturunkannya agama islam adalah untuk menjadi rahmat, petunjuk untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia sampai akhirat sebagaimana Allah berfirman (QS. Al-Anbiya‟ : 107) yang artinya “Tidaklah kami mengutus mu (Muhammad saw) kecuali untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”.

Islam beserta seluruh ajaran yang dibawanya memiliki tujuan dan fungsi pemeliharaan terhadap 5 (lima) hal/pokok (kemashlahatan), yaitu:

1. Memelihara kemaslahatan agama (Hifzh al-din), Sebelum kedatangan Islam, secara alamiah manusia menciptakan dan membudayakan berbagai jenis keyakinan terhadap tuhan atau kekuatan supranatural yang pada titik tertentu menciptakan ajaran animisme, dinamisme, politeisme (penyembahan pada banyak tuhan/dewa), henoteisme, sampai dengan turunnya para Nabi dan Rosul yang membawa ajaran monotheisme (Satu tuhan) berdasarkan wahyu dari Allah swt untuk menyelamatkan manusia dari kesalahan dalam beraqidah, dan penyembahan (peribadatan) pada tuhan. dan Islam datang menyelamatkan dan menjaga manusia dari kesalahan dalam beragama sekaligus menjaga kerukunan hidup antar umat beragama. Allah SWT berfirman didalam (QS Al-Baqarah [2]: 256).

2. Memelihara jiwa (Hifzh al-nafsi), Allah SWT berfirman yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi ma'af dengan cara yang baik (pula). yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, Maka baginya siksa yang sangat pedih ( QS Al-Baqarah [2]: 178)”. Ayat ini cukup menjadi dalil yang tegas dan jelas bahwa Islam adalah agama yang menghargai hidup dan kehidupan manusia sehingga Islam menutup rapat-rapat kemungkinan tumbuh suburnya prilaku pembunuhan brutal tanpa alasan yang dapat dibenarkan syariat.

3. Memelihara akal (Hifzh al-aqli), Allah SWT berfirman yang artinya : “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,”(QS Al-Baqarah [2]: 219). dalil di atas menunjukkan betapa Islam sangat menghargai akal sebagai karunia terbesar dari sang pencipta sekaligus faktor yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

4. Memelihara keturunan dan kehormatan (Hifzh al-nashli), Manusia sebagai salah satu makhluk ciptaan Allah memiliki naluri berkembang biak dan ketertarikan dengan lewan jenis. Islam datang dengan tuntunan berkembang biak dan menuniakan hasrat seksual dari Allah yang diatur dalam syariat pernikahan serta larangan berzina, Allah SWT berfirman didalam (QS Al-Baqarah [2]: 221).

5. Memelihara harta benda (Hifzh al-mal), Allah SWT berfirman yang artinya : Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Maidah [5]: 38). Ayat di atas menunjukan perlindungan Islam terhadap kepemilikan harta manusia dengan memberikan ancaman hukuman yang sangat berat berupa hokum potong tangn bagi para pelaku pencurian, koruptor, begal dan pelaku kejahatan sejenis. Tidak hanya memberikan ancaman dan hukuman bagi pencuri, Islam pun memberikan larangan keras bagi tindakan manipulatif yang dapat merugikan harta orang lain tanpa membedakan bentuk fisik, ras, golongan, bahkan agama sekalipun.

III. SUMBER AJARAN ISLAM 
       Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah dua sumber utama ajaran Islam, yang mana keduanya merupakan wahyu Allah SWT. Sehingga di antara keduanya sama sekali tidak terdapat pertentangan di dalamnya. Setiap orang Islam harus mencintai dan berpegang teguh pada keduanya, dengan demikian dia akan selamat, baik di dunia maupun di akhirat. Seperti sabda Rasul SAW. sebagai berikut: “Aku tinggalkan dua pusaka pada kalian, jika kalian berpegang pada keduanya, niscaya tidak akan tersesat, yaitu kitab Allah (al-Qur’an) dan sunnah Rasul-Nya.

IV. RUANG LINGKUP AJARAN ISLAM 
Islam sebagai agama dan objek kajian akademik memiliki cakupan dan ruang lingkup yang luas. Secara garis besar, Islam memiliki sejumlah ruang lingkup yang saling terkait, yaitu lingkup keyakinan (aqidah), lingkup norma (syariat), muamalat, dan perilaku (akhlak/ behavior). Nabi Muhammad SAW menjelaskan tentang agama/ keberagamaan dalam satu kalimat yang singkat, namun padat dan syarat makna, yaituلمعاملة الدين adDin al-Mua’malah atau agama adalah interaksi.

Pembahasan berikut ini memberikan elaborasi seputar tiga ruang lingkup pembahasan tentang Islam:

1. Aqidah (Iman), Iman yang disebut dalam hadits Nabi SAW. kemudian oleh para ulama dinamakan aqidah. Secara bahasa, kata aqidah mengandung beberapa arti, diantaranya adalah: ikatan, janji. Sedangkan secara terminologi, aqidah adalah kepercayaan yang dianut oleh orang-orang yang beragama atau tali yang mengokohkan hubungan manusia dengan Tuhan.

2. Syari’at (Islam), yang dimaksud dengan istilah Islam dalam hadits Nabi SAW. di atas adalah syari’ah. Istilah syari’ah menurut bahasa berarti jalan, yakni jalan besar di sebuah kota. Syari’ah juga berarti apa yang diturunkan Allah kepada para Rasul-Nya meliputi aqidah dan hukum-hukum Islam. Syari’ah juga mempunyai arti sumber mata air yang dimaksudkan untuk minum. Makna ini yang dipergunakan Bangsa Arab saat mengatakan: (syara’a al-ibl) yang berarti unta itu minum dari mata air yang mengalir tidak terputus. Syari’ah dalam arti luas adalah din, agama yang diturunkan Allah kepada para Nabi (Q.S. al-Syura [42]:13). Keseluruhan ajaran Islam yang terdapat di dalam al-Qur‟an dan yang dicontohkan dalam sunnah Nabi semuanya disebut syari‟ah, mencakup aqidah dan akhlak. Dengan demikian, kedua aspek tersebut, yakni aqidah dan syari‟ah (dalam arti hukum), tidak dapat dipisahkan sama sekali, baik dalam bentuk pengamalan, maupun dalam bentuk pemikiran yang berkembang mengenai dua aspek tersebut.

3. Akhlak (Ihsan), Ihsan dalam arti khusus sering disamakan dengan akhlak, yaitu tingkah laku dan budi pekerti yang baik menurut Islam. Akhlak berasal dari kata khalaqa (menjadikan, membuat). Dari kata dasar itu dijumpai kata khuluqun (bentuk jamak), yang artinya perangai, tabiat, adat atau sistem perilaku yang dibuat. Dengan demikian, ihsan menurut Rasulullah SAW. adalah beribadah kepada Allah. Ibadah ini tidak formalitas, tetapi terpadu dengan perasaan bahwa dirinya sedang berhadapan langsung dengan Allah. Sementara itu, ihsan menurut bahasa berarti kebaikan yang memiliki dua sasaran. Pertama , ia memberikan berbagai kenikmatan atau manfaat kepada orang lain. Kedua, ia memperbaiki tingkah laku berdasarkan apa yang diketahuinya yang manfaatnya kembali kepada diri sendiri.

V. KARAKTERISTIK AJARAN ISLAM 
Karakteristik ajaran Islam yang dimaksud dalam bagian ini adalah sifat yang melekat pada agama Islam dalam segala dimensinya; baik dimensi Aqidah (doktrin), Ibadah (ritual), maupun akhlak (nilai universal), yang meliputi delapan hal berikut :

1. Rabbaniyah (bersumber langsung dari allah) 

2. Syamil mutakamil (integral menyeluruh dan sempurna) 

3. Al-basathah (elastis, fleksibel, mudah) 

4. Al-’adalah (keadilan) 

5. Wasatahan ( seimbang-moderat) 

6. Perpaduan antara keteguhan prinsip dan fleksibilitas 

7. Graduasi (beransur-ansur/bertahap) 

8. Argumentatif filosofis




NB : JIKA TULISAN INI MEMBANTU MOHON ISI KOLOM KOMENTAR DIBAWAH, BERI KRITIK DAN SARAN AGAR DAPAT BERKEMBANG SELALU SESUAI KONDISI YANG ADA.

-TERIMA KASIH-

-SEMOGA BERMANFAAT-


RIWAYAT HIDUP KYAI KHARISMATIK ALMARHUM MBAH KYAI MAIMOEN ZUBAIR


Bismillahinirrahmanirrahim....Assalamu Alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.... Halo Sobat Copy-In Aja! Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga Sehat selalu dan selalu bersemangat dalam menjalani aktifitas sehari-hari. Kali ini Copy-In Aja akan membahas tentang Riwayat Hidup Kyai Kharismatik Alm. Mbah Kyai Maimoen Zubair dari Sarang, Rembang. Eitssss.....baca nya sambil putar tuh Qosidah Asli Karya Beliau... Dijamin Enak dan Bikin Khusyuk.....

QOSIDAH DIBAWAH INI SALAH SATU KARYA ASLI BELIAU


Riwayat Hidup Dan Keluarga 
Beliau adalah putra pertama dari Mbah Kyai Zubair . Beliau dilahirkan di Karang Mangu Sarang , hari Kamis Legi bulan Sya’ban tahun 1347 H atau 1348 H atau 28 Oktober 1928 . Bahwasanya ayahanda dari Mbah Kyai Maimoen , Mbah Kyai Zubair adalah seorang murid pilihan dari Syaikh Sa’id Al – Yamani serta Syaikh Hasan Al-Yamani Al- Makky , yang merupakan dua ulama yang tersohor pada saat itu. Seorang kyai yang tersohor karena kesederhanaanya dan juga sifatnya yang merakyat. Ibundanya adalah putri dari Kyai Ahmad bin Syu’aib , ulama yang kharismatik dan teguh dalam memegang pendirian . Pada umur 25 tahun beliau menikah , dan selanjutnya beliau menjadi kepala Pasar Sarang selama 10 Tahun . 
Image result for MBAH MOEN"
Dari ayahnya beliau meneladani ketegasan dan keteguhan, sementara itu dari kakeknya beliau meneladani rasa kasih sayang dan juga kedermawanan. Kasih sayang terkadang dapat merontokkan ketegasan , rendah hati sering kali bersebrangan dengan ketegasan. Akan tetapi dalam kepribadian Mbah Moen , semua itu tersinergi secara sepadan dan seimbang. 

Beliau merupakan gambaran yang sempurna dari pribadi yang matang dan santun. Semua itu bukanlah hanya kebetulan semata, sebab sejak dini beliau yang hidup dalam tradisi pesantren diasuh langsung oleh ayah dan kakeknya sendiri. Beliau membuktikan bahwa ilmu tidak harus menyulap pemiliknya menjadi tinggi hati ataupun ekslusif dibanding yang lainnya. Kesehariannya adalah aktualisasi dari semua itu. 

Meskipun banyak dikenal dan mengenal erat tokoh-tokoh nasional, namun hal tersebut tidak menjadikan beliau tercerabut dari basis tradisinya semula. Sementara walaupun sering menjadi peraduan bagi keluh kesah masyarakat , akan tetapi semua itu tetap tidak menghalanginya untuk menyelami dunia luar , tepatnya yang tidak berhubungan dengan kebiasaan di pesantren sekalipun. 


Dari Jalur Kakek sampai dengan Sunan Giri 

Mbah Maimun bin Kyai Zubair bin Kyai Dahlan bin Mbah Carik Waridjo bin Mbah munandar bin Kyai Puteh Podang ( desa Lajo Singgahan Tuban ) bin Kyai Imam Qomaruddin ( dari Blongsong Baureno Bojonegoro ) bin Kyai Muhammad ( Macan Putih Gresik ) bin Kyai Ali bin Kyai Husen ( desa Mentaras Dusun Gresik ) bin Kyai Abdullah ( desa Karang Jarak Gresik ) bin Pengeran Pakabunan bin Panembahan Kulon bin Sunan Giri. 

Image result for silsilah mbah moen"

Dari Jalur Nenek Ibu Nayi Hasanah , yaitu : 
  1. Mbah Kyai Maulana ( Mbah Lanah ) bangsawan Madura yang bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro
  2. Mbah Kyai Ghozali bin Mbah Kyai Maulana
  3. Hajjah Sa’idah binti Mbah Kyai Ghozali yang menikah dengan Kyai Syu’aib , Kyai Syu’aib adalah penerus perkembangan pesantren yang dirintis oleh Mbah Maulana dan Mbah Ghozali
  4. Nyai Hasanah binti Kyai Syu’aib
  5. Nyai Hasanah menikah dengan Kyai Dahlan
  6. Kyai Zubair bin Kyai Dahlan
  7. Kyai Maimun Zubair

Penerus KH Maimun Zubair 

Putra-putra beliau antara lain : 
  1. KH Abdullah Ubab
  2. KH Gus Najih
  3. KH Majid Kamil
  4. Gus Abd. Ghofur
  5. Gus Abd. Rouf
  6. Gus M. Wafi
  7. Gus Yasin
  8. Gus Idror
Dua Putri : 
  1. Nyai Sobihah
  2. Nyai Rodhiyah 

Pendidikan 

Tidak ada satupun yang meragukan kematangan ilmunya, sebab dari balita beliau sudah dibesarkan dengan ilmu-ilmu agama . sebelum menginjak remaja , beliau diasuh langsung oleh ayahnya untuk menghafal dan memahami ilmu Shoruf, Nahwu, Fiqih, Manthiq, Balaghah dan bermacam ilmu Syara’ yang lain. Kecermelamngan dem,I kecermelangan tidak heran menghiasi langkah beliau menuju dewasa, pada usianya yang kira-kira masih 17 tahun , beliau sudah hafal di luar kepala kitab-kitab nadzam, diantaranya Al-Jurumiyyah , Imrithi, Alfiyah Ibnu Malik, Matan Jauharotut Tauhid, Sullamul Munaroq serta Rohabiyyah fil Faroidl. Seiring pula dengan kepiawaiyan beliau melahap kitab-kitab fiqh madzhab Asy-Syafi’l, semisal Fathul Qorib , Fathul Mu’in, Fathul Wahhab dan lain sebagainya. 

Pendidikan awal di Lirboyo 

Pada tahun kemerdekaan, beliau memulai pengembaraanya guna ngangsu kaweruh ke Pondok Lirboyo Kediri dibawah pimpinan KH. Absul Karim yang terkenal dengan Mbah Manaf. Selain kepada Mbah Manaf , beliau juga menimba ilmu agama dari KH. Mahrus Ali juga KH. Marzuqi. Di pondok Lirboyo , pribadi yang sudah cemerlang ini masih diasah pula selama kurang lima tahun. Waktu yang melelahkan bagi kebanyakan orang , namun tentu masih belum cukup untuk menegak habis ilmu pengetahuan. 

Menuntut Ilmu di Mekkah 

Saat menginjak usia 21 tahun, beliau menuruti panggilan jiwanya untuk mengembara ke Makkah Al-Mukkaromah. Perjalanan ini diiringi oleh kakeknya sendiri , yaitu KH. Ahmad bin Syu’aib . tidak hanya satu , namun semua mata air ilmu agama dihampirinya . beliau menerima ilmu dari sekian banyak orang ternama dibidangnya , antara lain 
  1. Sayyid Alawi bin Abbas Al Maliki
  2. Syekh Al – Imam Hasan Al- Masysyath
  3. Sayyid Amin Al – Quthbi
  4. Syekh Yasin bin Isa Al-Fadani
  5. Syekh Abdul Qodir Almandily
Menuntut Ilmu Dari Ulama Besar Jawa 

Dua tahun lebih beliau menetap di Makkah Al- Mukkaromah . sekembalinya beliau dari tanah suci , beliau masih melanjutkan semangatnya “ Ngangsuh Kaweruh “ yang tidak pernah surut. Meskipun sudah dari Arab , beliau masih meluangkan waktu untuk memperkaya pengetahuannya dengan belajar kepada Ulama-ulama besar yang ada di Tanah Jawa pada saat itu. 

Pesantren Al Anwar , Sarang 
Pada tahun 1965 beliau mengabdikan diri untuk berkhidmat pada ilmu-ilmu agama . hal tersebut diiringi dengan berdirinya Pondok Pesantren yang berada disisi kediaman beliau, pesantren tersebut bernama Al Anwar. 

Sudah terbukti jika ilmu-ilmu yang beliau miliki tidak hanya membesarkan jiwa beliau secara pribadi, tetapi juga membesarkan setiap santri yang bersungguh-sungguh mengecap tetesan ilmu dari beliau. Kemudian sekitar tahun 2008 beliau kembali mengibarkan sayapnya dengan mendirikan Pondok Pesantren Al Anwar 2 di Gondan Sarang Rembang, Jawa Tengah. 

Tokoh Nasional Tradisonal 

Mbah Moen , begitu orang biasa memanggilnya , beliau juga pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang selama 7 tahun , setelah berakhirnya masa tugas , beliau mulai berkonsentrasi mengurus pondoknya yang baru berdiri sekitar 7 atau 8 tahun, namun rupanya tenaga dan pikiran beliau masih dibutuhkan oleh Negara sehingga beliau diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jateng selama tiga periode. Dalam dunia politik beliau tergolong sebagai Kyai yang adem ayem. 

Disaat NU sedang ramai mendirikan PKB ( 1998 ) Mbah Moen lebih memilih diam dan istiqomah di PPP, partai dengan gambar Ka’bah. Pada tahun 1977 KH Maimun Zubair mengembangkan pesantren dengan mendirikan Pondok Pesantren Putri Al Anwar . 

Perjalanan Terakhir 

Image result for makam mbah moen di mekah"

Mbah Kyai Maimoen wafat pada Hari Selasa, 06 Agutus 2019 Pukul 04.30 waktu setempat setelah melakanakan solat shubuh di Rumah Sakit An-Nur Mekkah. Tidak ada tanda-tanda gejala sakit pada diri beliau. Beliau dimakaman di Pemakaman Ma’la Mekkah berdekatan dengan Makam Guru Beliau yakni Sayyid Alwi Al-Maliki Al-Hasani dan Makam Istri Rasulullah SAW yakni Sayyidatina Siti Khadijah RA.


NB : JIKA TULISAN INI MEMBANTU MOHON ISI KOLOM KOMENTAR DIBAWAH, BERI KRITIK DAN SARAN AGAR DAPAT BERKEMBANG SELALU KONDISI YANG ADA. JIKA ADA REQUEST TENTANG KULINER YANG AKAN DIANGKAT MOHON DIKIRIM PADA MENU "CONTACT US".

Contact Us

Address :

Kecamatan Rogojampi
Kabupaten Banyuwangi
Provinsi Jawa Timur

Email :

teamcopyaja@gmail.com